Translate

Minggu, 29 Desember 2013

You & I (fanfiction) - Episode 3

-episode 2-
Sang Ri dan Youngjae yang dihukum duduk formal akhirnya mulai mengobrol satu sama lain. Dan akhirnya, tanpa mereka sadari, mereka bertambah dekat. Disaat mereka sedang mengobrol, Lee-seonsaengnim datang -mengganggu- dengan mengatakan akan memberi tugas sebagai ganti hukuman mereka. 
tugas apa yang beliau berikan?
.
.
.

Aku membersihkan kaca kelasku dengan menggerutu. Kenapa harus membersihkan kaca? Aku lebih baik mengetik seluruh skripsi yang dikerjakan oleh anak Lee-seonsaengnim dibanding harus mengelap kaca seperti ini. Membuat gelarku sebagai siswa yang tak pernah dihukum luntur seketika.
“Yak! Kau membersihkan atau apa? Dari tadi selalu menggerutu,” Dari balik kaca yang aku bersihkan, muncul wajah Sang Ri. Anak itu juga mendapat hukuman yang sama sepertiku.
“Setiap pekerjaan itu harus dilakukan dengan enjoy dan senang hati. Jika kau terus menggerutu, pekerjaan kecil seperti ini akan terasa berat.” Aku hanya menganggukan kepalaku masih tetap menggerutu.
“Apa yang mau kau lakukan?”
Tanpa kuketahui, Sang Ri keluar kelas dan langsung menatapku tajam. “Senyum!” perintahnya singkat. Seenaknya saja menyuruhku, memangnya dia siapa.
“Kubilang senyum, pabo[1]!” dengan jari lentiknya, ia menarik kedua ujung bibirku. Membuatku tersenyum dengan terpaksa.
“He-hei!” aku menurunkan kedua tangan Sang Ri. “Seseorang lebih tampan jika tersenyum tulus dan akan terlihat jelek jika ia cemberut.” Sang Ri berlalu begitu saja dan melanjutkan mengelap kaca di sebelahku.
Aku masih terdiam. Walaupun menyebalkan, ucapan Sang Ri benar. Sangat benar. “Yak! Park Sang Ri! Darimana kau belajar kata-kata bijak seperti itu?” tanyaku mendekat kearahnya.
Sang Ri mengangkat bahu. “Molla[2], kalimat itu keluar sendiri tanpa sempat aku berpikir. SELESAI! YEAH~~!” Sang Ri keringatnya dengan tangannya. “Kaca di setiap kelas di koridor ini telah bersih! Huft…” seru Sang Ri sembari merentangkan tangannya. “Kerjasama yang baik, ketua kelas.” Sang Ri memukul kecil lenganku, aku tersenyum lalu mengangguk.

“Youngjae-ya~”

Seseorang memanggilku dari belakang dengan suara yang terkesan imut. Aku dan Sang Ri menoleh kebelakang. Terlihat Song Ha Na tersenyum ke arahku lalu dia mendekat.
“Youngjae-ya~ Kau pasti capek. Benar kan?” tanyanya sembari merapikan seragamku.
“Tidak juga,” jawabku datar.
Song Hana adalah anak kepala sekolah dan kakak kelasku. Baru-baru ini kuketahui dia menyukaiku. Berbeda dengan yang lain, dia sangat berani melakukan sesuatu padaku. Merapikan dasiku, merapikan kemejaku, merapikan bukuku, berkomentar tentang gaya rambutku, dia bahkan memanggilku ‘yeobo’. Dia benar-benar seperti seorang kekasih. Padahal aku tak menyukainya. Menurutku dia terlalu centil. Aku tak suka dengan gadis seperti itu. Aku bisa saja menjauh darinya, namun dia mengancamku akan mengatakan tabiat burukku pada kepala sekolah jika aku menjauhinya. Kejam sekali.
“Begitukah? Aku membuatkanmu makan siang. Makanlah,” dia menyondorkan sebuah kotak makan siang berwarna kuning. Warna kesukaanku.
“Terima kasih,” aku tersenyum terpaksa.
“Sama-sama~ Ini siapa?” Hana menunjuk Sang Ri dengan tatapan merendahkan.
“Oh, dia teman sekelasku. Namanya Park Sang Ri. Sang Ri-ah, ini Song Hana. Seonbae[3] kita.” Aku memperkenalkan mereka berdua.
Annyeonghaseyo seonbaenim, Park Sang Ri imnida.” Sang Ri membungkuk kecil. Namun Hana hanya tersenyum miring.
“Sang Ri-ssi, kenapa kau berdua dengan Youngjae-ku?” tanya Hana. “Kami tak berduaan. Banyak orang yang lalu lalang. Termasuk Anda dan dua orang teman Anda, seonbaenim,” jawab Sang Ri sembari tersenyum manis. Raut wajah Hana berbeda dengan yang tadi. Aku tahu sebenarnya Hana mengatakan hal tadi karena cemburu, tapi jawaban Sang Ri jauh diluar apa yang dia pikirkan.
“Bukan, bukan itu yang kumaksud. Kenapa kau dan Youngjae ada disini?” ulang Hana. “Kami dihukum karena tidak membawa tugas rumah kami,” ucap Sang Ri. “Omona, sesange~[4] Youngjae-ku tak membawa buku tugas? Ya ampun, ada apa denganmu yeobo?” Hana menunjukan reaksi kaget yang terlalu over.
“Tak apa, seonbae. Aku sedang malas mengerjakannya. Lagipula tugas itu terlalu mudah.” Aku berbohong. Ya, agar dia cepat pergi.
“Baiklah, aku percaya padamu. Asal jangan kau ulangi lagi. Oke?” aku mengangguk mendengar ucapan Hana. “Aku pergi dulu. Annyeong~[5]” Hana berbalik, dan berjalan menjauh dari kami.
“Heh, dia itu pacarmu ya?” tanya Sang Ri dengan tatapan menyelidik.
“Bukan. Dia yang menyukaiku. Aku tak menyukainya,” jawabku sembari menghela nafas.
“Lalu kenapa dia memanggilmu yeobo dan kau tak menghindarinya?”
“Kau tahu, dia adalah anak kepala sekolah. Hanya orang bodoh saja yang menghindari anak kepala sekolah,”
“Apa rankingmu selama ini karena berhubungan dengan Hana tadi?” Aku dan Sang Ri mulai merapikan peralatan mengelap kaca.
“Tentu saja tidak, bodoh! Aku melakukannya dengan kerja kerasku sendiri.” Aku membawa ember berisi air, sedangkan Sang Ri membawa lap dan sarung tangan yang kami pakai tadi.
“Memangnya kenapa? Kau cemburu ya?” ledekku. “Bodoh! Tentu saja tidak. Jiwa ragaku sudah terpenuhi oleh Yoo Youngjae. Bukan Moon Youngjae. Jadi, jangan terlalu percaya diri, mehrong~~[6]” Sang Ri menjulurkan lidahnya.
^^^
Saat itu, adalah saat ketika aku dan Sang Ri mulai dekat satu sama lain. Semenjak itu juga, kami mulai mencurahkan isi hati kami masing-masing.
^^^
“Youngjae-ya, kenapa sifatmu dingin sekali dengan orang lain? Kau jarang sekali tersenyum, jarang tertawa, dan selalu sendirian. Apa kau tak merasa kesepian?”
Pertanyaan itu adalah awal mula perubahan sifatku. Hari itu, cuaca sangat tidak bersahabat. Angin kencang dan hujan lebat seakan menyuruh seluruh siswa agar tetap berada di sekolah. Sesuai keinginan hujan, aku dan Sang Ri berdiam di kelas sementara teman-temanku yang lain memilih berkumpul di aula.
“Memangnya kenapa? Aku nyaman dengan diriku yang sekarang.” Aku tetap serius dengan buku yang ada di tanganku.
“Entah kenapa, aku sangat ingin merubah sifatmu.” Aku menoleh kearah Sang Ri, kemudian  tertawa. “Memangnya kau bisa? 5 dikali 5 saja kau masih belum lancar.” Aku meledeknya.
“Sebaiknya, kau juga harus perhatikan ucapanmu. Bisa saja ucapanmu malah membuat orang lain sakit hati.”

DEG!

“Maafkan aku atas ucapan kasarku tadi,” sontak aku meminta maaf tanpa sempat berpikir. Rasanya ucapan Sang Ri tadi seperti menyindirku.
“Apa kau tahu kesalahanmu?” tanya Sang Ri. “Hmmm…” aku berpikir. Apa kesalahanku? Kenapa aku meminta maaf?
“Untuk apa kau meminta maaf jika kau bahkan tak tahu kesalahanmu.” Sang Ri berdiri dari duduknya. Ia kemudian mengambil tas dan berjalan keluar. “Sampai kau tahu kesalahanmu, jangan berbicara denganku,” ucapnya sambil membanting pintu.



[1] bodoh
[2] Tidak tahu
[3] senior
[4] Ya Tuhan, Ya Ampun~
[5] Selamat tinggal/halo
[6] Suara saat menjulurkan lidah di Korea

Tidak ada komentar:

Posting Komentar