-episode 2-
Sang Ri dan Youngjae yang dihukum duduk formal akhirnya mulai mengobrol satu sama lain. Dan akhirnya, tanpa mereka sadari, mereka bertambah dekat. Disaat mereka sedang mengobrol, Lee-seonsaengnim datang -mengganggu- dengan mengatakan akan memberi tugas sebagai ganti hukuman mereka.
tugas apa yang beliau berikan?
.
.
.
Aku membersihkan kaca kelasku dengan menggerutu. Kenapa harus
membersihkan kaca? Aku lebih baik mengetik seluruh skripsi yang dikerjakan oleh
anak Lee-seonsaengnim dibanding harus
mengelap kaca seperti ini. Membuat gelarku sebagai siswa yang tak pernah
dihukum luntur seketika.
“Yak! Kau membersihkan atau apa? Dari tadi selalu menggerutu,”
Dari balik kaca yang aku bersihkan, muncul wajah Sang Ri. Anak itu juga
mendapat hukuman yang sama sepertiku.
“Setiap pekerjaan itu harus dilakukan dengan enjoy dan senang hati. Jika kau terus menggerutu, pekerjaan kecil
seperti ini akan terasa berat.” Aku hanya menganggukan kepalaku masih tetap
menggerutu.
“Apa yang mau kau lakukan?”
Tanpa kuketahui, Sang Ri keluar kelas dan langsung menatapku
tajam. “Senyum!” perintahnya singkat. Seenaknya saja menyuruhku, memangnya dia
siapa.
“Kubilang senyum, pabo[1]!”
dengan jari lentiknya, ia menarik kedua ujung bibirku. Membuatku tersenyum
dengan terpaksa.
“He-hei!” aku menurunkan kedua tangan Sang Ri. “Seseorang lebih
tampan jika tersenyum tulus dan akan terlihat jelek jika ia cemberut.” Sang Ri
berlalu begitu saja dan melanjutkan mengelap kaca di sebelahku.
Aku masih terdiam. Walaupun menyebalkan, ucapan Sang Ri benar.
Sangat benar. “Yak! Park Sang Ri! Darimana kau belajar kata-kata bijak seperti
itu?” tanyaku mendekat kearahnya.
Sang Ri mengangkat bahu. “Molla[2],
kalimat itu keluar sendiri tanpa sempat aku berpikir. SELESAI! YEAH~~!” Sang Ri
keringatnya dengan tangannya. “Kaca di setiap kelas di koridor ini telah
bersih! Huft…” seru Sang Ri sembari merentangkan tangannya. “Kerjasama yang
baik, ketua kelas.” Sang Ri memukul kecil lenganku, aku tersenyum lalu
mengangguk.
“Youngjae-ya~”
Seseorang memanggilku dari belakang dengan suara yang terkesan
imut. Aku dan Sang Ri menoleh kebelakang. Terlihat Song Ha Na tersenyum ke arahku
lalu dia mendekat.
“Youngjae-ya~ Kau pasti capek. Benar kan?” tanyanya sembari
merapikan seragamku.
“Tidak juga,” jawabku datar.
Song Hana adalah anak kepala sekolah dan kakak kelasku. Baru-baru
ini kuketahui dia menyukaiku. Berbeda dengan yang lain, dia sangat berani
melakukan sesuatu padaku. Merapikan dasiku, merapikan kemejaku, merapikan
bukuku, berkomentar tentang gaya rambutku, dia bahkan memanggilku ‘yeobo’.
Dia benar-benar seperti seorang kekasih. Padahal aku tak menyukainya. Menurutku
dia terlalu centil. Aku tak suka dengan gadis seperti itu. Aku bisa saja
menjauh darinya, namun dia mengancamku akan mengatakan tabiat burukku pada
kepala sekolah jika aku menjauhinya. Kejam sekali.
“Begitukah? Aku membuatkanmu makan siang. Makanlah,” dia
menyondorkan sebuah kotak makan siang berwarna kuning. Warna kesukaanku.
“Terima kasih,” aku tersenyum terpaksa.
“Sama-sama~ Ini siapa?” Hana menunjuk Sang Ri dengan tatapan
merendahkan.
“Oh, dia teman sekelasku. Namanya Park Sang Ri. Sang Ri-ah, ini
Song Hana. Seonbae[3]
kita.” Aku memperkenalkan mereka berdua.
“Annyeonghaseyo seonbaenim, Park Sang Ri imnida.” Sang Ri
membungkuk kecil. Namun Hana hanya tersenyum miring.
“Sang Ri-ssi, kenapa kau berdua dengan Youngjae-ku?” tanya Hana.
“Kami tak berduaan. Banyak orang yang lalu lalang. Termasuk Anda dan dua orang
teman Anda, seonbaenim,” jawab Sang Ri sembari tersenyum manis. Raut wajah Hana
berbeda dengan yang tadi. Aku tahu sebenarnya Hana mengatakan hal tadi karena
cemburu, tapi jawaban Sang Ri jauh diluar apa yang dia pikirkan.
“Bukan, bukan itu yang kumaksud. Kenapa kau dan Youngjae ada
disini?” ulang Hana. “Kami dihukum karena tidak membawa tugas rumah kami,” ucap
Sang Ri. “Omona, sesange~[4]
Youngjae-ku tak membawa buku tugas? Ya ampun, ada apa denganmu yeobo?”
Hana menunjukan reaksi kaget yang terlalu over.
“Tak apa, seonbae. Aku sedang malas mengerjakannya.
Lagipula tugas itu terlalu mudah.” Aku berbohong. Ya, agar dia cepat pergi.
“Baiklah, aku percaya padamu. Asal jangan kau ulangi lagi. Oke?”
aku mengangguk mendengar ucapan Hana. “Aku pergi dulu. Annyeong~[5]” Hana berbalik, dan
berjalan menjauh dari kami.
“Heh, dia itu pacarmu ya?” tanya Sang Ri dengan tatapan
menyelidik.
“Bukan. Dia yang menyukaiku. Aku tak menyukainya,” jawabku sembari
menghela nafas.
“Lalu kenapa dia memanggilmu yeobo dan kau tak
menghindarinya?”
“Kau tahu, dia adalah anak kepala sekolah. Hanya orang bodoh saja
yang menghindari anak kepala sekolah,”
“Apa rankingmu selama ini karena berhubungan dengan Hana tadi?”
Aku dan Sang Ri mulai merapikan peralatan mengelap kaca.
“Tentu saja tidak, bodoh! Aku melakukannya dengan kerja kerasku
sendiri.” Aku membawa ember berisi air, sedangkan Sang Ri membawa lap dan
sarung tangan yang kami pakai tadi.
“Memangnya kenapa? Kau cemburu ya?” ledekku. “Bodoh! Tentu saja
tidak. Jiwa ragaku sudah terpenuhi oleh Yoo Youngjae. Bukan Moon Youngjae.
Jadi, jangan terlalu percaya diri, mehrong~~[6]”
Sang Ri menjulurkan lidahnya.
^^^
Saat itu, adalah saat ketika aku dan Sang Ri mulai dekat satu sama
lain. Semenjak itu juga, kami mulai mencurahkan isi hati kami masing-masing.
^^^
“Youngjae-ya, kenapa sifatmu dingin sekali dengan orang lain? Kau
jarang sekali tersenyum, jarang tertawa, dan selalu sendirian. Apa kau tak merasa
kesepian?”
Pertanyaan itu adalah awal mula perubahan sifatku. Hari itu, cuaca
sangat tidak bersahabat. Angin kencang dan hujan lebat seakan menyuruh seluruh
siswa agar tetap berada di sekolah. Sesuai keinginan hujan, aku dan Sang Ri
berdiam di kelas sementara teman-temanku yang lain memilih berkumpul di aula.
“Memangnya kenapa? Aku nyaman dengan diriku yang sekarang.” Aku
tetap serius dengan buku yang ada di tanganku.
“Entah kenapa, aku sangat ingin merubah sifatmu.” Aku menoleh
kearah Sang Ri, kemudian tertawa.
“Memangnya kau bisa? 5 dikali 5 saja kau masih belum lancar.” Aku meledeknya.
“Sebaiknya, kau juga harus perhatikan ucapanmu. Bisa saja ucapanmu
malah membuat orang lain sakit hati.”
DEG!
“Maafkan aku atas ucapan kasarku tadi,” sontak aku meminta maaf
tanpa sempat berpikir. Rasanya ucapan Sang Ri tadi seperti menyindirku.
“Apa kau tahu kesalahanmu?” tanya Sang Ri. “Hmmm…” aku berpikir.
Apa kesalahanku? Kenapa aku meminta maaf?
“Untuk apa kau meminta maaf jika kau bahkan tak tahu kesalahanmu.”
Sang Ri berdiri dari duduknya. Ia kemudian mengambil tas dan berjalan keluar.
“Sampai kau tahu kesalahanmu, jangan berbicara denganku,” ucapnya sambil
membanting pintu.
