Translate

Rabu, 05 Maret 2014

Without You - Jung Dae Hyun

Suaramu masih terngiang di telingaku.
Kenapa kenangan itu masih ada?
Suaramu, kenangan itu, dan semuanya tentangmu.
Aku merindukanmu.


"Kau harus lepaskan suaramu. Jangan menahannya!"

Yong Ri tersenyum ketika mengingat kalimat yg selalu ia dapatkan ketika belajar menyanyi dengan kekasihnya.

"Pegang mic-nya dengan benar. suaramu juga ditentukan oleh tata cara pemegangan mic!"

Yong Ri meraih mic yang ada di dekatnya. Menyanyikan lagu yang ia dan Daehyun biasa nyanyikan. Yang berbeda, dia sekarang sendirian. Lagu yang harusnya dinyanyikan berdua, terasa berbeda.

"Neol saranghae~"

Lirik yang biasa dinyanyikan Daehyun khusus untuk Yong Ri ketika gadis itu merasa tak bersemangat. Bulir air mata keluar dari sudut matanya. Memeluk lututnya sendirian di dalam studio itu. Di dalam studio yang seharusnya milik Daehyun sekarang. Di dalam studio yang penuh kenangan.

"Yong Ri-ya, 수고해(sugohae-kerja bagus)~ ayo makan malam bersama. Tenang saja, aku angyg traktir,"

Berjalan di depan restoran yang menjadi langganannya dan Daehyun sekarang terasa aneh tanpa kehadiran Daehyun yang selalu ada untuknya. Sekarang tak ada Daehyun yang biasanya menggenggam tangannya kemanapun mereka pergi.

"Aah! Yong Ri-ya! Ayo, masuklah. Sudah lama aku tak melihatmu. Masuklah, masuklah," bibi pemilik restoran mengajak Yong Ri masuk kedalam restoran.

"Darimana saja kau? Aku tak pernah melihatmu," bibi itu sekarang duduk didepannya setelah menyajikan ramyun spesial yg selalu ia dan Daehyun pesan.

Yong Ri hanya bisa tersenyum. Lidahnya kelu untuk menjawab pertanyaan bibi pemilik resto.

"Sepertinya Daehyun trlalu keras mengajarimu sampai-sampai kau kehilangan suara seperti ini. Ngomong-ngomong dimana bocah itu?" Yong Ri tersedak begitu mendengar pertanyaan bibi pemilik resto.

Bibi pemilik resto segera membantu Yong Ri dengan menepuk punggungnya.

"Aish. Kalau suaramu hilang jgn mencoba menjawabku. Aku memaklumi-","dia meninggal."

"뭐라고?(mworago?-apa yang kau katakan?) siapa yg meninggal?" Yong Ri tak menjawab.

"Jangan bercanda. Tak mungkin bocah itu meninggal secepat ini kan?" Senyum Bibi pemilik resto memudar ketika Yong Ri mengeluarkn kristal bening dri sudut matanya.


'SEOUL NEWS
20 Januari 20xx
HEADLINE
Solois ternama, Daehyun tewas karena badai salju'




"Kau tidak sendirian. Pegang tnganku. Dan aku akan bersamamu." -Daehyun (With You)


Senin, 03 Maret 2014

Without You - Kim Him Chan

Apa aku terluka? Ya, kurasa aku terluka.
Tolong sembuhkan luka ini.
Hanya kau yang dapat menyembuhkannya.


"Aku sakit,"
"Kau perlu ke dokter?"
"Tidak, aku hanya butuh pelukanmu,"

Na Young menahan tawa melihat pesannya bersama kekasihnya beberapa bulan lalu. Na Young terus membaca sampai akhirnya ia tepat di sms terakhir.

"Aku terkena leukemia. Tapi dokter bilang aku masih punya harapan. Tolong beri aku semangat ^^"

Senyum Na Young reda. Leukimia itu memang berhasil dilewati oleh kekasihnya. Namun, beberapa minggu setelah dokter mencangkokan sumsum tulang belakang, dokter memberitahukan hal yang lebih gawat dibanding itu.

"Kim Him Chan memang berhasil melewati leukimia tingkat awal tersebut. Namun yang sekarang mesti dihadapinya adalah Kanker Hati. Aku tak pernah mengira hal ini sebelumnya, tapi dia telah berada di stadium terakhir."

Menelungkupkan wajahnya dengan kedua tangannya. Na Young menangis. Hal yang tak pernah terjadi ketika Himchan masih bersamanya.

"Ketika aku pertama kali bertemu denganmu, jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Wuah~ Aku merasa seperti jantungku akan meledak!”

"Saat aku pertama kali ingin mengutarakan perasaanku padamu, tiba-tiba saja otakku menjadi blank hanya karena mencium bau shampoo-mu. hehe~"

Tangis Na Young semakin keras mengenang setiap senyuman Himchan. Setiap perkataan Himchan. Setiap kasih sayang yang Himchan berikan padanya. 

deg deg deg

Na Young meraba degup jantungnya.

"Himchan-ssi, apa gadis yang bersamamu adalah istrimu?" Gelak tawa muncul dari wajah Himchan yang sekarang sayu. 
"Aniyo-bukan-, dia kekasihku." Dokter mengangguk paham. 
"Apa kau tahu dia terkena infeksi di jantungnya?" Himchan terbelalak kaget.
"Dia tak pernah memberitahukannya padaku. Bagaimana bisa Anda tahu dia terkena infeksi pada jantungnya?" ujarnya.
"Beberapa waktu yang lalu, dia datang ke rumah sakit dan mengeluhkan bahwa dadanya terasa sangat sakit. Setelah di-rontgen, jantungnya terkena infeksi dan harus segera mendapat jantung baru. Dia memberitahuku agar tak memberitahukannya pada siapapun. Tapi kurasa kau perlu ta-"
"Berikan jantungku padanya... Aku sudah tak membutuhkannya lagi,"

Na Young masih mengingatnya dengan jelas ketika ia tersenyum bahagia setelah operasi pencangkokan implan jantung baru untuknya berhasil. Namun senyum itu langsung tergantikan oleh tangisan sedih karena jantung tersebut milik Himchan.

Meski dokter berkali-kali mengatakan Himchan memberikan jantungnya untuk Na Young atas kemauan sendiri, tapi tetap saja. Na Young merasa bersalah. 

deg deg deg...

"Sekarang kita memiliki perasaan yang sama! Jantungku akan berdegup untukmu, dan aku akan tetap tersenyum disini~ Jantungku akan terus hidup untukmu. Sampai suatu saat, Tuhan akan mempertemukan kita,"

Degup jantung ini, Na Young pernah mendengarnya ketika Himchan memeluknya. Degup yang sama.

"Uljima~ Aku tak suka ketika wajah cantikmu berubah sedih seperti itu," Na Young mengusap air matanya mengingat kalimat terakhir Himchan sebelum kekasihnya itu meninggal.


"Sakit ini tidak membutuhkan obat apapun. Kau memelukku, dan akupun akan sembuh. Kau adalah alasan kenapa aku hidup. aku membutuhkanmu." -Himchan (Lovesick)


Without You - Bang Yong Guk

Karena jika aku bersamamu,
Aku merasa nyaman dan tenang.
Tanpamu, aku kehilangan arah.
Apa yang harus kulakukan?


Lantunan suara piano muncul dari balik ruangan Yongguk. Dia memainkan Fur elise milik Beethoven dengan sangat lancar.

Jreng

Ia menatap piano yang tadi ia mainkan dengan tatapan kosong setelah mengingat nada itu. Nada yang mengingatkannya pada orang yang sangat ia sayangi.

"Kau sibuk?"
"Tidak. Hanya saja aku tak bisa mengahafal Fur Elise sepertimu."

Yongguk tersenyum. Ia mengacak rambut Cha Eun dengan lembut

"Kau pasti bisa Cha Eun-ah."


Klek

Yongguk menutup pintu flat-nya yang sederhana. Lalu berjalan kearah dapur dan sibuk membuat ramen. Ia tersenyum menatap ramen yang masih mengeluarkan asap.

Yongguk kembali menaruh sumpit yang baru ia angkat. Ia berniat akan memakan ramennya. Namun ia mengingat kalimat'nya',  

"Oppa, ramenmu tak enak. Harusnya kau memintaku memasaknya,"

Yongguk berjalan menuju meja kerjanya yang berantakan. Ia segera merapikannya. Namun entah darimana datangnya, selembar kertas tiba-tiba terselip diantara lembaran nada lagu milik Yongguk. Ia tersenyum kecil, kertas ulangan matematika Cha Eun. 

'Untuk Yongguk-oppa'

Di pojok sebelah kanan atas kertas ulangan tersebut tertulis namanya. Ia merasa bangga dengan Cha Eun yang meraih nilai sempurna di mata pelajaran yang Cha Eun tak sukai.

"Cos dari 3, sin 4 itu-", "5" , "Oppa! Jangan menjawabnya! Aku ingin pintar sepertimu tahu!"

Tersenyum. Ketika ia harus mengingat kembali cara belajar Cha Eun dan apa yang ia dan Cha Eun bicarakan dulu. Kalimat gadis itu selalu benar, dan terkadang terlalu benar sampai menyakiti hati.

"Oppa, kau tidak seperti yang orang-orang katakan. Mereka menganggapmu dingin dan galak, tapi sebenarnya kau sangat hangat dan baik hati. Aku heran kenapa mereka hanya melihatmu dari luar saja."

"Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu kembali Cha Eun-ah?" Perlahan, airmata Yongguk keluar.

'SEOUL NEWS
14 Maret 20xx 
Headline 
Penerima Beasiswa Spesial dari 3 Universitas Ternama di Seoul Meninggal Dalam Kecelakaan Beruntun'


"Aku bodoh. Aku tak bisa melindungimu," 

Air mata mengalir.


"Ramen tak enak yang aku buat, siapa yang akan memakannya bersamaku sekarang? Kau adalah gadis yang memelukku dan berkata aku bukan orang yang dingin dan pendiam. Aku merindukanmu." -Yongguk (Easy)


Minggu, 29 Desember 2013

You & I (fanfiction) - Episode 3

-episode 2-
Sang Ri dan Youngjae yang dihukum duduk formal akhirnya mulai mengobrol satu sama lain. Dan akhirnya, tanpa mereka sadari, mereka bertambah dekat. Disaat mereka sedang mengobrol, Lee-seonsaengnim datang -mengganggu- dengan mengatakan akan memberi tugas sebagai ganti hukuman mereka. 
tugas apa yang beliau berikan?
.
.
.

Aku membersihkan kaca kelasku dengan menggerutu. Kenapa harus membersihkan kaca? Aku lebih baik mengetik seluruh skripsi yang dikerjakan oleh anak Lee-seonsaengnim dibanding harus mengelap kaca seperti ini. Membuat gelarku sebagai siswa yang tak pernah dihukum luntur seketika.
“Yak! Kau membersihkan atau apa? Dari tadi selalu menggerutu,” Dari balik kaca yang aku bersihkan, muncul wajah Sang Ri. Anak itu juga mendapat hukuman yang sama sepertiku.
“Setiap pekerjaan itu harus dilakukan dengan enjoy dan senang hati. Jika kau terus menggerutu, pekerjaan kecil seperti ini akan terasa berat.” Aku hanya menganggukan kepalaku masih tetap menggerutu.
“Apa yang mau kau lakukan?”
Tanpa kuketahui, Sang Ri keluar kelas dan langsung menatapku tajam. “Senyum!” perintahnya singkat. Seenaknya saja menyuruhku, memangnya dia siapa.
“Kubilang senyum, pabo[1]!” dengan jari lentiknya, ia menarik kedua ujung bibirku. Membuatku tersenyum dengan terpaksa.
“He-hei!” aku menurunkan kedua tangan Sang Ri. “Seseorang lebih tampan jika tersenyum tulus dan akan terlihat jelek jika ia cemberut.” Sang Ri berlalu begitu saja dan melanjutkan mengelap kaca di sebelahku.
Aku masih terdiam. Walaupun menyebalkan, ucapan Sang Ri benar. Sangat benar. “Yak! Park Sang Ri! Darimana kau belajar kata-kata bijak seperti itu?” tanyaku mendekat kearahnya.
Sang Ri mengangkat bahu. “Molla[2], kalimat itu keluar sendiri tanpa sempat aku berpikir. SELESAI! YEAH~~!” Sang Ri keringatnya dengan tangannya. “Kaca di setiap kelas di koridor ini telah bersih! Huft…” seru Sang Ri sembari merentangkan tangannya. “Kerjasama yang baik, ketua kelas.” Sang Ri memukul kecil lenganku, aku tersenyum lalu mengangguk.

“Youngjae-ya~”

Seseorang memanggilku dari belakang dengan suara yang terkesan imut. Aku dan Sang Ri menoleh kebelakang. Terlihat Song Ha Na tersenyum ke arahku lalu dia mendekat.
“Youngjae-ya~ Kau pasti capek. Benar kan?” tanyanya sembari merapikan seragamku.
“Tidak juga,” jawabku datar.
Song Hana adalah anak kepala sekolah dan kakak kelasku. Baru-baru ini kuketahui dia menyukaiku. Berbeda dengan yang lain, dia sangat berani melakukan sesuatu padaku. Merapikan dasiku, merapikan kemejaku, merapikan bukuku, berkomentar tentang gaya rambutku, dia bahkan memanggilku ‘yeobo’. Dia benar-benar seperti seorang kekasih. Padahal aku tak menyukainya. Menurutku dia terlalu centil. Aku tak suka dengan gadis seperti itu. Aku bisa saja menjauh darinya, namun dia mengancamku akan mengatakan tabiat burukku pada kepala sekolah jika aku menjauhinya. Kejam sekali.
“Begitukah? Aku membuatkanmu makan siang. Makanlah,” dia menyondorkan sebuah kotak makan siang berwarna kuning. Warna kesukaanku.
“Terima kasih,” aku tersenyum terpaksa.
“Sama-sama~ Ini siapa?” Hana menunjuk Sang Ri dengan tatapan merendahkan.
“Oh, dia teman sekelasku. Namanya Park Sang Ri. Sang Ri-ah, ini Song Hana. Seonbae[3] kita.” Aku memperkenalkan mereka berdua.
Annyeonghaseyo seonbaenim, Park Sang Ri imnida.” Sang Ri membungkuk kecil. Namun Hana hanya tersenyum miring.
“Sang Ri-ssi, kenapa kau berdua dengan Youngjae-ku?” tanya Hana. “Kami tak berduaan. Banyak orang yang lalu lalang. Termasuk Anda dan dua orang teman Anda, seonbaenim,” jawab Sang Ri sembari tersenyum manis. Raut wajah Hana berbeda dengan yang tadi. Aku tahu sebenarnya Hana mengatakan hal tadi karena cemburu, tapi jawaban Sang Ri jauh diluar apa yang dia pikirkan.
“Bukan, bukan itu yang kumaksud. Kenapa kau dan Youngjae ada disini?” ulang Hana. “Kami dihukum karena tidak membawa tugas rumah kami,” ucap Sang Ri. “Omona, sesange~[4] Youngjae-ku tak membawa buku tugas? Ya ampun, ada apa denganmu yeobo?” Hana menunjukan reaksi kaget yang terlalu over.
“Tak apa, seonbae. Aku sedang malas mengerjakannya. Lagipula tugas itu terlalu mudah.” Aku berbohong. Ya, agar dia cepat pergi.
“Baiklah, aku percaya padamu. Asal jangan kau ulangi lagi. Oke?” aku mengangguk mendengar ucapan Hana. “Aku pergi dulu. Annyeong~[5]” Hana berbalik, dan berjalan menjauh dari kami.
“Heh, dia itu pacarmu ya?” tanya Sang Ri dengan tatapan menyelidik.
“Bukan. Dia yang menyukaiku. Aku tak menyukainya,” jawabku sembari menghela nafas.
“Lalu kenapa dia memanggilmu yeobo dan kau tak menghindarinya?”
“Kau tahu, dia adalah anak kepala sekolah. Hanya orang bodoh saja yang menghindari anak kepala sekolah,”
“Apa rankingmu selama ini karena berhubungan dengan Hana tadi?” Aku dan Sang Ri mulai merapikan peralatan mengelap kaca.
“Tentu saja tidak, bodoh! Aku melakukannya dengan kerja kerasku sendiri.” Aku membawa ember berisi air, sedangkan Sang Ri membawa lap dan sarung tangan yang kami pakai tadi.
“Memangnya kenapa? Kau cemburu ya?” ledekku. “Bodoh! Tentu saja tidak. Jiwa ragaku sudah terpenuhi oleh Yoo Youngjae. Bukan Moon Youngjae. Jadi, jangan terlalu percaya diri, mehrong~~[6]” Sang Ri menjulurkan lidahnya.
^^^
Saat itu, adalah saat ketika aku dan Sang Ri mulai dekat satu sama lain. Semenjak itu juga, kami mulai mencurahkan isi hati kami masing-masing.
^^^
“Youngjae-ya, kenapa sifatmu dingin sekali dengan orang lain? Kau jarang sekali tersenyum, jarang tertawa, dan selalu sendirian. Apa kau tak merasa kesepian?”
Pertanyaan itu adalah awal mula perubahan sifatku. Hari itu, cuaca sangat tidak bersahabat. Angin kencang dan hujan lebat seakan menyuruh seluruh siswa agar tetap berada di sekolah. Sesuai keinginan hujan, aku dan Sang Ri berdiam di kelas sementara teman-temanku yang lain memilih berkumpul di aula.
“Memangnya kenapa? Aku nyaman dengan diriku yang sekarang.” Aku tetap serius dengan buku yang ada di tanganku.
“Entah kenapa, aku sangat ingin merubah sifatmu.” Aku menoleh kearah Sang Ri, kemudian  tertawa. “Memangnya kau bisa? 5 dikali 5 saja kau masih belum lancar.” Aku meledeknya.
“Sebaiknya, kau juga harus perhatikan ucapanmu. Bisa saja ucapanmu malah membuat orang lain sakit hati.”

DEG!

“Maafkan aku atas ucapan kasarku tadi,” sontak aku meminta maaf tanpa sempat berpikir. Rasanya ucapan Sang Ri tadi seperti menyindirku.
“Apa kau tahu kesalahanmu?” tanya Sang Ri. “Hmmm…” aku berpikir. Apa kesalahanku? Kenapa aku meminta maaf?
“Untuk apa kau meminta maaf jika kau bahkan tak tahu kesalahanmu.” Sang Ri berdiri dari duduknya. Ia kemudian mengambil tas dan berjalan keluar. “Sampai kau tahu kesalahanmu, jangan berbicara denganku,” ucapnya sambil membanting pintu.



[1] bodoh
[2] Tidak tahu
[3] senior
[4] Ya Tuhan, Ya Ampun~
[5] Selamat tinggal/halo
[6] Suara saat menjulurkan lidah di Korea

IMPORTANT!

Karena beberapa hal yang mendasar /ceileh/ dengan ini saya mengganti ff 'Goodbye Summer'  menjadi 'You & I'  dimohon pengertiannya yah~
maaf karena beberapa minggu ini ga dilanjutin... thanks atas perhatiannyaaa~ {}

Sabtu, 07 Desember 2013

You & I (fanfiction) - Episode 2

-Episode 1-
Setelah sebelumnya Sang Ri yang keluar, Youngjae yang juga tiba-tiba saja kehilangan buku tugasnya dikeluarkan dari kelas oleh guru favoritnya, Lee-seonsaengnim.
.
.
.
.
Aku berjalan loyo dan melakukan hal yang sama seperti yang Sang Ri lakukan sekarang ini. Duduk formal. 3 jam pelajaran ini aku akan sangat tersiksa.
“Kau tak membawa buku juga?” tanya Sang Ri kaget begitu melihatku. Aku mengangguk lemas.
Wae? Kau anak yang rajin. Kenapa tak membawanya?” Aku menghela nafas berat.
“Aku sudah menaruhnya di mejaku tepat saat kau keluar tadi. Tapi entah kenapa bukuku hilang sewaktu Lee-seonsaengnim mengecek bukuku.”
Sang Ri menganggukan kepalanya. Sepertinya dia paham dengan perasaanku. Apa aku dan dia connect satu sama lain?
Hening…. Canggung….
Aku dan Sang Ri memang tidak dekat. Tapi tak kusangka akan begini sepinya tanpa teriakan-teriakan tentang B.A.P seperti yang biasa ia lakukan. Setiap dia masuk kelas, dia pasti berteriak, “YOUNGJAE NAEKKEOYA!”
Saat pertama kali aku mendengarnya, kukira dia menyatakan perasaannya padaku. Ternyata bukan. Dia menyatakannya kepada Yoo Young Jae. Salah satu anggota B.A.P kurasa. Untung saja memang tidak menyatakannya padaku. Toh, siapa juga yang mau dengan gadis sepertinya.
“Yak! Kau melamun?”
Aku terlonjak kaget. “Ani…
Sejak kapan suara Sang Ri menjadi sangat lembut seperti tadi? Apa hanya perasaanku saja? Mana mungkin kan dalam sekejap suaranya berubah seperti milik Song Ji Eun Secret?
“Kau melamunkanku ya?” wajah Sang Ri terlihat mengejekku.
“Yak! Memangnya siapa juga yang melamunkanmu. Memangnya gadis sepertimu pantas untuk dilamunkan?” Sang Ri memandang wajahku datar. Ada sorot mata sengit di wajahnya.
Oops. Apa aku salah mengucapkan kata-kata?
Miwoyo[1],” ucapnya sembari membuang muka. Yah, terserahlah, aku juga sedang tak ingin berurusan dengan gadis menyusahkan sepertinya.
“Kau marah?”
Aku segera menutup mulutku. Kenapa aku malah mengatakan hal itu? Apa yang sebenarnya terjadi dengan otakku.
YES!” kata Sang Ri singkat, namun cukup menusuk. Jamkkan. Menusuk? Sejak kapan hati seorang Moon Young Jae tertusuk oleh ucapan? Hari ini benar-benar aneh. What’s going on with me?
“Jangan marah~”
Hah? Apa aku baru saja mengeluarkan suara imut? YAK! MOON YOUNG JAE! APA YANG TERJADI DENGANMU! Teriakku dalam hati. Sepertinya otakku benar-benar sedang konslet hari ini.
Sang Ri menoleh ke arahku. “Tunjukan aku aegyo-mu, lalu aku takkan marah padamu lagi,” perintahnya.
Yang benar saja. Aku benci dengan 5 huruf itu. Apa-apaan aegyo itu, seorang sang namja[2] takkan menunjukan wajah imutnya.
Ppo ppo~”
Eh?
“Uwaaa~ gwiyopta~”
Aku tak  menyadari apa yang aku lakukan sampai ucapan ‘imut’ yang diberikan Sang Ri padaku karena ia melihat aegyo-ku? EOMMA! APA YANG TERJADI DENGANKU??!!
“Aku tak menyadari kau ternyata imut.” Sang Ri tersenyum ke arahku. Aku membelalakan mataku. Kenapa senyumnya sekarang terasa berbeda?
“Youngjae-ya, ternyata kau benar-benar mirip suamiku.”
“Hahaha… benark-HAH?!”
Aku menoleh cepat ke arahnya begitu sadar dengan perkataan Sang Ri. “Yeobo? Jeongmalyo? Yeobo?” aku tak bisa menghentikan rasa kagetku. Dia masih 15 tahun dan sudah menikah? What the hell.
“YUP! Dengan Yoo Youngjae,” aku bernafas lega mendengar perkataan Sang Ri. Kenapa aku harus bernafas lega?
“Youngjae-ya, kenapa wajahmu seperti Youngjae?” tanya Sang Ri. “Oh? Jinjjayo?” Sang Ri mengangguk. “Aku harus segera oplas,” ucapku.
“Yak! Yak! Hajima. Jangan lakukan itu.” Aku menatap bingung ke arah Sang Ri.
Wae?”
“Karena wajahmu adalah favoritku.” Sang Ri kembali tersenyum.
Deg, Deg, Deg…
Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya? Yang kutahu tentang jantung yang berdetak cepat adalah karena gugup, khawatir, cemas, kecapaian, dan bertemu dengan seseorang yang dicintai. Aku tak khawatir, tak cemas, ataupun kecapaian. Apa aku gugup? Ataukah…
“Kalian berdua. Masuklah. Saya akan memberi toleransi kepada kalian berdua. Tuan Moon, dan Nona Park.”
Suara Lee-seonsaengnim kembali membuyarkan lamunanku. Aku segera bangkit dari duduk formalku, dan entah kenapa, secara refleks aku membantu Sang Ri yang sepertinya kesemutan.
“Banyak tugas untuk kalian.”
Aku berpandangan dengan Sang Ri mendengar perkataan Lee-seonsaengnim. Tugas?
.
.
.
.
.
.
-next release: episode 3-




[1] Aku benci denganmu
[2] Laki-laki sejati