Translate

Rabu, 05 Maret 2014

Without You - Jung Dae Hyun

Suaramu masih terngiang di telingaku.
Kenapa kenangan itu masih ada?
Suaramu, kenangan itu, dan semuanya tentangmu.
Aku merindukanmu.


"Kau harus lepaskan suaramu. Jangan menahannya!"

Yong Ri tersenyum ketika mengingat kalimat yg selalu ia dapatkan ketika belajar menyanyi dengan kekasihnya.

"Pegang mic-nya dengan benar. suaramu juga ditentukan oleh tata cara pemegangan mic!"

Yong Ri meraih mic yang ada di dekatnya. Menyanyikan lagu yang ia dan Daehyun biasa nyanyikan. Yang berbeda, dia sekarang sendirian. Lagu yang harusnya dinyanyikan berdua, terasa berbeda.

"Neol saranghae~"

Lirik yang biasa dinyanyikan Daehyun khusus untuk Yong Ri ketika gadis itu merasa tak bersemangat. Bulir air mata keluar dari sudut matanya. Memeluk lututnya sendirian di dalam studio itu. Di dalam studio yang seharusnya milik Daehyun sekarang. Di dalam studio yang penuh kenangan.

"Yong Ri-ya, 수고해(sugohae-kerja bagus)~ ayo makan malam bersama. Tenang saja, aku angyg traktir,"

Berjalan di depan restoran yang menjadi langganannya dan Daehyun sekarang terasa aneh tanpa kehadiran Daehyun yang selalu ada untuknya. Sekarang tak ada Daehyun yang biasanya menggenggam tangannya kemanapun mereka pergi.

"Aah! Yong Ri-ya! Ayo, masuklah. Sudah lama aku tak melihatmu. Masuklah, masuklah," bibi pemilik restoran mengajak Yong Ri masuk kedalam restoran.

"Darimana saja kau? Aku tak pernah melihatmu," bibi itu sekarang duduk didepannya setelah menyajikan ramyun spesial yg selalu ia dan Daehyun pesan.

Yong Ri hanya bisa tersenyum. Lidahnya kelu untuk menjawab pertanyaan bibi pemilik resto.

"Sepertinya Daehyun trlalu keras mengajarimu sampai-sampai kau kehilangan suara seperti ini. Ngomong-ngomong dimana bocah itu?" Yong Ri tersedak begitu mendengar pertanyaan bibi pemilik resto.

Bibi pemilik resto segera membantu Yong Ri dengan menepuk punggungnya.

"Aish. Kalau suaramu hilang jgn mencoba menjawabku. Aku memaklumi-","dia meninggal."

"뭐라고?(mworago?-apa yang kau katakan?) siapa yg meninggal?" Yong Ri tak menjawab.

"Jangan bercanda. Tak mungkin bocah itu meninggal secepat ini kan?" Senyum Bibi pemilik resto memudar ketika Yong Ri mengeluarkn kristal bening dri sudut matanya.


'SEOUL NEWS
20 Januari 20xx
HEADLINE
Solois ternama, Daehyun tewas karena badai salju'




"Kau tidak sendirian. Pegang tnganku. Dan aku akan bersamamu." -Daehyun (With You)


Senin, 03 Maret 2014

Without You - Kim Him Chan

Apa aku terluka? Ya, kurasa aku terluka.
Tolong sembuhkan luka ini.
Hanya kau yang dapat menyembuhkannya.


"Aku sakit,"
"Kau perlu ke dokter?"
"Tidak, aku hanya butuh pelukanmu,"

Na Young menahan tawa melihat pesannya bersama kekasihnya beberapa bulan lalu. Na Young terus membaca sampai akhirnya ia tepat di sms terakhir.

"Aku terkena leukemia. Tapi dokter bilang aku masih punya harapan. Tolong beri aku semangat ^^"

Senyum Na Young reda. Leukimia itu memang berhasil dilewati oleh kekasihnya. Namun, beberapa minggu setelah dokter mencangkokan sumsum tulang belakang, dokter memberitahukan hal yang lebih gawat dibanding itu.

"Kim Him Chan memang berhasil melewati leukimia tingkat awal tersebut. Namun yang sekarang mesti dihadapinya adalah Kanker Hati. Aku tak pernah mengira hal ini sebelumnya, tapi dia telah berada di stadium terakhir."

Menelungkupkan wajahnya dengan kedua tangannya. Na Young menangis. Hal yang tak pernah terjadi ketika Himchan masih bersamanya.

"Ketika aku pertama kali bertemu denganmu, jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Wuah~ Aku merasa seperti jantungku akan meledak!”

"Saat aku pertama kali ingin mengutarakan perasaanku padamu, tiba-tiba saja otakku menjadi blank hanya karena mencium bau shampoo-mu. hehe~"

Tangis Na Young semakin keras mengenang setiap senyuman Himchan. Setiap perkataan Himchan. Setiap kasih sayang yang Himchan berikan padanya. 

deg deg deg

Na Young meraba degup jantungnya.

"Himchan-ssi, apa gadis yang bersamamu adalah istrimu?" Gelak tawa muncul dari wajah Himchan yang sekarang sayu. 
"Aniyo-bukan-, dia kekasihku." Dokter mengangguk paham. 
"Apa kau tahu dia terkena infeksi di jantungnya?" Himchan terbelalak kaget.
"Dia tak pernah memberitahukannya padaku. Bagaimana bisa Anda tahu dia terkena infeksi pada jantungnya?" ujarnya.
"Beberapa waktu yang lalu, dia datang ke rumah sakit dan mengeluhkan bahwa dadanya terasa sangat sakit. Setelah di-rontgen, jantungnya terkena infeksi dan harus segera mendapat jantung baru. Dia memberitahuku agar tak memberitahukannya pada siapapun. Tapi kurasa kau perlu ta-"
"Berikan jantungku padanya... Aku sudah tak membutuhkannya lagi,"

Na Young masih mengingatnya dengan jelas ketika ia tersenyum bahagia setelah operasi pencangkokan implan jantung baru untuknya berhasil. Namun senyum itu langsung tergantikan oleh tangisan sedih karena jantung tersebut milik Himchan.

Meski dokter berkali-kali mengatakan Himchan memberikan jantungnya untuk Na Young atas kemauan sendiri, tapi tetap saja. Na Young merasa bersalah. 

deg deg deg...

"Sekarang kita memiliki perasaan yang sama! Jantungku akan berdegup untukmu, dan aku akan tetap tersenyum disini~ Jantungku akan terus hidup untukmu. Sampai suatu saat, Tuhan akan mempertemukan kita,"

Degup jantung ini, Na Young pernah mendengarnya ketika Himchan memeluknya. Degup yang sama.

"Uljima~ Aku tak suka ketika wajah cantikmu berubah sedih seperti itu," Na Young mengusap air matanya mengingat kalimat terakhir Himchan sebelum kekasihnya itu meninggal.


"Sakit ini tidak membutuhkan obat apapun. Kau memelukku, dan akupun akan sembuh. Kau adalah alasan kenapa aku hidup. aku membutuhkanmu." -Himchan (Lovesick)


Without You - Bang Yong Guk

Karena jika aku bersamamu,
Aku merasa nyaman dan tenang.
Tanpamu, aku kehilangan arah.
Apa yang harus kulakukan?


Lantunan suara piano muncul dari balik ruangan Yongguk. Dia memainkan Fur elise milik Beethoven dengan sangat lancar.

Jreng

Ia menatap piano yang tadi ia mainkan dengan tatapan kosong setelah mengingat nada itu. Nada yang mengingatkannya pada orang yang sangat ia sayangi.

"Kau sibuk?"
"Tidak. Hanya saja aku tak bisa mengahafal Fur Elise sepertimu."

Yongguk tersenyum. Ia mengacak rambut Cha Eun dengan lembut

"Kau pasti bisa Cha Eun-ah."


Klek

Yongguk menutup pintu flat-nya yang sederhana. Lalu berjalan kearah dapur dan sibuk membuat ramen. Ia tersenyum menatap ramen yang masih mengeluarkan asap.

Yongguk kembali menaruh sumpit yang baru ia angkat. Ia berniat akan memakan ramennya. Namun ia mengingat kalimat'nya',  

"Oppa, ramenmu tak enak. Harusnya kau memintaku memasaknya,"

Yongguk berjalan menuju meja kerjanya yang berantakan. Ia segera merapikannya. Namun entah darimana datangnya, selembar kertas tiba-tiba terselip diantara lembaran nada lagu milik Yongguk. Ia tersenyum kecil, kertas ulangan matematika Cha Eun. 

'Untuk Yongguk-oppa'

Di pojok sebelah kanan atas kertas ulangan tersebut tertulis namanya. Ia merasa bangga dengan Cha Eun yang meraih nilai sempurna di mata pelajaran yang Cha Eun tak sukai.

"Cos dari 3, sin 4 itu-", "5" , "Oppa! Jangan menjawabnya! Aku ingin pintar sepertimu tahu!"

Tersenyum. Ketika ia harus mengingat kembali cara belajar Cha Eun dan apa yang ia dan Cha Eun bicarakan dulu. Kalimat gadis itu selalu benar, dan terkadang terlalu benar sampai menyakiti hati.

"Oppa, kau tidak seperti yang orang-orang katakan. Mereka menganggapmu dingin dan galak, tapi sebenarnya kau sangat hangat dan baik hati. Aku heran kenapa mereka hanya melihatmu dari luar saja."

"Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu kembali Cha Eun-ah?" Perlahan, airmata Yongguk keluar.

'SEOUL NEWS
14 Maret 20xx 
Headline 
Penerima Beasiswa Spesial dari 3 Universitas Ternama di Seoul Meninggal Dalam Kecelakaan Beruntun'


"Aku bodoh. Aku tak bisa melindungimu," 

Air mata mengalir.


"Ramen tak enak yang aku buat, siapa yang akan memakannya bersamaku sekarang? Kau adalah gadis yang memelukku dan berkata aku bukan orang yang dingin dan pendiam. Aku merindukanmu." -Yongguk (Easy)